Pagi di pesantren selalu datang lebih cepat dari yang diinginkan. Belum sempat mimpi usai, suara kentongan sudah mengetuk kesadaran.
“Bangun… wis subuh…”
Suara lirih itu terdengar dari sudut kamar.
Rozak membuka mata dengan berat. Dingin lantai menyapa telapak kakinya. Ia duduk sebentar, menghela napas panjang. Di kepalanya masih ada banyak hal yang belum selesai—hafalan yang belum lancar, tugas yang menumpuk, dan satu hal lain yang tak pernah benar-benar pergi; harapan orang-orang di rumah.
Ia berdiri, meraih sarung, lalu berjalan bersama teman-temannya menuju Pesanggrahan.
Di sela langkah yang terayun tanpa kesadaran penuh, tiba-tiba Reza menepuk bahunya.
“Zak, kowe mikir opo maneh? Ket wingi kok meneng wae.”
Rozak tersenyum tipis.
“Ra popo… mung kesel wae.”
Reza mengangguk pelan. Ia paham, lelah di pesantren bukan cuma soal fisik.
Hari itu berjalan seperti biasa—ngaji, sekolah, menghafal. Tapi bagi Rozak, setiap kegiatan terasa seperti ujian yang tak pernah benar-benar selesai.
Sore harinya, saat duduk di serambi, ia membuka surat dari ibunya. Tulisan tangan yang sederhana, tapi terasa berat dibaca.
“Nak, sing sabar yo, bapakmu saiki wis ora kuat nyambut gawe abot. Ibu mung iso ndonga, mugo-mugo kowe dadi wong sing iso ngangkat drajat keluarga.”
Tangan Rozak sedikit bergetar. Ia menutup surat itu perlahan.
Reza yang duduk di sampingnya melirik.
“Seko omah, zak?”
Rozak mengangguk.
“Iyo…”
“Pesenne piye?”
Rozak diam sejenak, lalu berucap pelan,
“Ibu ngomong… aku kudu kuat. Kudu iso dadi harapan.”
Reza tersenyum kecil.
“Yo pancen ngono. Wong koyo awake iki, dudu mung golek ilmu. Nanging uga nggowo harapan.”
Rozak menatap langit yang mulai jingga. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa menekan.
Malampun datang. Seperti biasa, para santri kembali tenggelam dalam kitab. Lampu redup, suara lembaran kertas, dan sesekali batuk kecil menjadi irama yang tak pernah berubah. Namun di balik itu semua, ada hal yang sering tak terlihat—perjuangan yang sunyi.
Banyak orang di luar sana menganggap santri itu tertinggal. Tidak paham teknologi, tidak mengikuti zaman. Padahal, mereka tidak tahu—di tempat sederhana ini, sedang ditempa manusia-manusia yang belajar bertahan, belajar sabar, dan belajar mengalahkan dirinya sendiri.
Rozak menutup kitabnya perlahan. Matanya lelah, tapi pikirannya belum selesai. Ia keluar sebentar, duduk di halaman. Angin malam menyentuh wajahnya.
“Gusti…” gumamnya pelan. “Kulo mboten nyuwun dalan ingkang gampil… nanging kulo nyuwun dikuatke.”
Langkah kaki terdengar mendekat. Ternyata itu langkah kaki Ustadz Adib.
“Rozak, kok durung turu?”
Rozak langsung berdiri.
“Ngapunten, tadz… kulo sekedap malih tilem.”
Ustadz Adib tersenyum bijak. “Kesel, nggih?”
Rozak menunduk. “Nggih… atine kadang kroso abot, tadz.”
Kemudian, Ustadz Adib duduk disampingnya dan menepuk pundaknya.
“Le, dalanmu iki ora gampang. Nanging elinga, sing mbok gawa iku dudu mung awakmu dewe.” Rozak terdiam.
“Sampeyan nggawa jeneng wong tuo, nggawa harapan masyarakat. Nanging sing paling penting sampeyan lagi nyiapke diri kanggo dadi manfaat.”
Rozak menatap gurunya, matanya mulai basah.
“Tadz, kulo wedi mboten saged.”
Ustadz Adib menepuk bahunya pelan.
“Wedi iku wajar. Nanging ojo nganti mandek. Sing penting terus mlaku.”
Hari-hari berikutnya, tidak ada yang benar-benar berubah.
Rutinitas tetap sama. Lelah tetap ada.
Tapi ada satu hal yang mulai berbeda—cara Rozak melihat semua itu. Ia mulai memahami, bahwa menjadi santri bukan soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling kuat bertahan. Bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang tidak berhenti ditengah jalan dan mampu menuntaskan perjalanan.
Suatu malam, saat semua terlelap, Rozak kembali membuka surat ibunya. Kali ini, ia tidak merasa terbebani.
Ia tersenyum.
“Bu… aku isih proses,” hatinya berbisik.
Dari kejauhan, suara adzan Shubuh mulai terdengar merdu dari setiap penjuru Masjid.
Rozak berdiri. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Tapi kali ini, ia tidak lagi merasa sendiri. Karena di setiap langkahnya, ada doa yang mengiringi. Ada harapan yang menunggu serta keyakinan bahwa dari tempat sederhana ini, akan lahir seseorang yang kelak tidak hanya mengubah dirinya sendiri, tetapi juga dunia di sekitarnya.
Karya : M. Abdul Ghofur Mahasantri Ma’had Aly Amtsilati Semester 7
Editor : Najmatul Lail
