
Bagi Albar Waritsul Fuqoha, perjalanan pendidikan bukan sekadar tentang mengejar gelar. Ada proses panjang yang mempertemukan pesantren, ruang kelas, tugas pengabdian, hingga kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral.
Kini, ia dipercaya sebagai Kepala Bagian (Kabag) Akademik Ma’had Aly Amtsilati. Di tengah kesibukannya mengurus akademik mahasantri, kurikulum, program perkuliahan, hingga program setoran, Albar juga sedang menapaki fase baru dalam perjalanan intelektualnya: melanjutkan studi S3 Studi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB).
Tetap Mengabdi di Lembaga yang Membesarkannya
Albar bukan orang baru di lingkungan Ma’had Aly Amtsilati. Justru lembaga inilah yang menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya.
Ia menyelesaikan S1 Bahasa dan Sastra Arab di Ma’had Aly Amtsilati pada 2023. Setelah itu, ia melanjutkan S2 Pendidikan Bahasa Arab di UIN Walisongo Semarang dan menyelesaikannya pada 2025. Menariknya, selama menempuh S2, ia tetap mengabdikan diri di Ma’had Aly Amtsilati.
“Jadi, saya tetap berada di lembaga yang melahirkan saya dan turut berkontribusi di dalamnya,” ujarnya.
Kini amanahnya semakin besar. Sebagai Kabag Akademik, ia menjadi salah satu orang yang bersentuhan langsung dengan berbagai kebutuhan akademik di Ma’had Aly.
Bagi Albar, perjalanan tersebut terasa seperti sebuah lingkaran yang kembali ke titik awal. Ia pernah menjadi mahasantri, kemudian melanjutkan pendidikan, dan sekarang kembali untuk ikut mengembangkan lembaga yang dahulu mendidiknya.
Dari Bahasa Arab Menuju Studi Islam
Kedekatan Albar dengan dunia pendidikan Islam sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Ia berasal dari keluarga yang dekat dengan pendidikan Islam dan kemudian tumbuh dalam lingkungan pesantren. Dari sanalah ketertarikannya terhadap bahasa Arab dan pendidikan Islam berkembang menjadi pilihan akademik. S1 ia tempuh dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab. Setelah itu, ia merasa perlu memperkuat sisi pendidikan sehingga memilih S2 Pendidikan Bahasa Arab di UIN Walisongo. Baginya, mempelajari bahasa saja belum cukup. Ia ingin memahami bagaimana ilmu tersebut bisa diajarkan dan dikembangkan. Hal itu kemudian ia tuangkan dalam tesis yang berbasis pada pengembangan bahan ajar.
Namun, perjalanan akademiknya belum berhenti.
Setelah mendalami bahasa dan pendidikan, Albar ingin melihat persoalan pendidikan dan tradisi keilmuan pesantren dari sudut pandang yang lebih luas. Pilihan itu akhirnya membawanya ke Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Setelah belajar Bahasa dan Sastra Arab pada jenjang S1 dan Pendidikan Bahasa Arab pada jenjang S2, saya ingin melihat persoalan yang selama ini saya temui dalam pendidikan dan tradisi keilmuan pesantren tidak hanya dari perspektif pendidikan atau bahasa, tetapi juga dari perspektif studi Islam yang lebih luas, kritis, dan interdisipliner,” jelasnya.
Salah satu pemikiran yang turut menguatkan langkahnya adalah gagasan integrasi-interkoneksi keilmuan yang dikenalkan Prof. Amin Abdullah. Bagi Albar, gagasan tersebut membuka ruang untuk mempertemukan berbagai disiplin ilmu dalam melihat persoalan keislaman.
BIB dan Sebuah Kesempatan untuk Bertumbuh
Keputusan melanjutkan S3 tentu membutuhkan persiapan. Salah satu pintu yang kemudian ia coba adalah Beasiswa Indonesia Bangkit.
Informasi tentang BIB ia dapatkan dari salah satu dosen Ma’had Aly Amtsilati, Roisah Fathiyatur Rohmah, yang sebelumnya juga merupakan awardee S3.
Albar tidak sekadar melihat BIB sebagai bantuan pembiayaan pendidikan. Ia memandangnya sebagai kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan kontribusi yang lebih besar.
“Saya ingin melanjutkan pendidikan sekaligus meningkatkan kapasitas agar bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pendidikan Islam, khususnya pesantren dan Ma’had Aly,” katanya.
Sebelum mengikuti seleksi, persiapannya bahkan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Ia mempersiapkan administrasi sejak sekitar setengah tahun sebelumnya, termasuk mengurus Letter of Acceptance (LoA), calon promotor, rencana studi, hingga rencana penelitian.
Namun, menurutnya, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada sekadar kelengkapan administrasi.
“Mematangkan alasan: mengapa saya ingin S3 dan untuk apa beasiswa ini saya gunakan,” tuturnya.
Dari 12.000 Lebih Pendaftar
Perjalanan menuju status awardee BIB tentu tidak instan. Albar harus melewati beberapa tahapan seleksi, mulai dari ujian masuk S3 di kampus tujuan karena menggunakan jalur LoA, seleksi administrasi, ujian skolastik, hingga wawancara sebagai seleksi substansi. Di tengah proses tersebut, tantangan terbesar justru datang dari bagaimana membagi waktu. Di satu sisi, ia memiliki amanah di Ma’had Aly. Di sisi lain, ada persiapan studi dan seleksi beasiswa yang harus dijalani. Belum lagi masa menunggu hasil yang membutuhkan ketenangan dan keyakinan.
Menurut Albar, faktor yang paling menentukan keberhasilannya bukan hanya keinginan untuk kuliah, tetapi kesiapan untuk benar-benar menjalani studi.
“BIB tidak sekadar mencari kandidat yang ‘ingin’, tetapi mencari yang ‘ingin dan siap’,” ujarnya. Ketika pengumuman akhirnya datang, rasa syukur dan lega menjadi hal pertama yang ia rasakan. Terlebih, dari lebih dari 12.000 pendaftar, ia menjadi bagian dari sekitar 1.700 peserta yang dinyatakan diterima.
Namun, bagi Albar, kelulusan tersebut bukanlah garis akhir. Justru setelah dinyatakan lolos, muncul tanggung jawab baru: bagaimana kesempatan tersebut nantinya bisa memberikan manfaat dan kontribusi setelah ia menyelesaikan pendidikan.
Pernah Hampir Menyerah
Di balik pencapaian tersebut, perjalanan Albar tentu tidak selalu berjalan mulus.
Salah satu fase yang cukup berat adalah ketika ia harus mengatur waktu antara kuliah di Ma’had Aly Amtsilati dan kegiatan lain, termasuk menyetorkan Al-Qur’an di Musa Al-Mubarok Amtsilati, asuhan KH. Rizki Al-Mubarok bin KH. Taufiqul Hakim.
“Beberapa kali” ia mengaku pernah hampir menyerah. Tetapi selalu ada orang-orang yang menguatkannya. Kedua orang tuanya menjadi salah satu sumber kekuatan terbesar dalam perjalanan tersebut. Selain kedua orang tua, pengasuh, guru, dan dosen juga menjadi sosok yang ia anggap memiliki peran besar dalam membentuk langkahnya hingga sampai di titik sekarang.
S1, S2, S3: Bukan Sekadar Gelar
Bagi Albar, pendidikan tinggi bukan jaminan seseorang akan mendapatkan semua impiannya. Tetapi pendidikan dapat memperbesar peluang seseorang untuk mencapainya.
“Kalau ilmu sendiri itu gagah ilmiahnya, maka kuliah menggagahkan administrasinya,” katanya.
Ia juga melihat setiap jenjang pendidikan memiliki karakter yang berbeda.
“Sederhananya, S1 membangun fondasi analisis ilmu, S2 memperkuat dan mengembangkan ilmu, sedangkan S3 adalah kontribusi dalam pengetahuan baru.”
Kalimat tersebut barangkali menjadi gambaran sederhana dari perjalanan akademiknya sendiri.
S1 membangun fondasi dalam Bahasa dan Sastra Arab. S2 memperluasnya melalui Pendidikan Bahasa Arab. Dan kini, S3 menjadi ruang baginya untuk membawa pengalaman pendidikan, bahasa Arab, pesantren, dan studi Islam ke dalam kajian yang lebih luas dan interdisipliner.
Dari seorang mahasantri Ma’had Aly, kemudian menjadi bagian dari staf yang ikut mengurus akademik, hingga mendapat kesempatan melanjutkan studi doktoral melalui Beasiswa Indonesia Bangkit, perjalanan Albar menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu tentang pergi sejauh-jauhnya.
Kadang, pendidikan justru membawa seseorang kembali ke tempat ia tumbuh bukan lagi sebagai orang yang belajar, tetapi sebagai orang yang ikut membangun.
Dan bagi Albar, perjalanan itu masih jauh dari selesai.
Oleh : Muhammad Faza Fauzan Azhima
Editor : Mohammad Hizbullah
