Pak Ginanjar: Manuskrip yang Tak Dirawat Umat Islam Justru Dipelihara Orientalis

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBNU Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, Lc., M.A. berkesempatan kembali menjadi narasumber di seminar Ma’had Aly Amtsilati yang berjudul “Masa Depan Kajian Manuskrip Pesantren: Indonesia Membangun Ekosistem Tahqiq, Digitalisasi, dan Publikasi Internasional.”

Selain sebagai Wasekjen PBNU, beliau Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, Lc., M.A., atau akrab disapa Pak Ginanjar, juga dikenal luas sebagai filolog Islam Nusantara, Lektor Pascasarjana UNUSIA, penulis dan pentahqiq Maktabah Turmusi, dan sekaligus menjadi Muhadir (dosen) Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Amtsilati.

Seminar ini dilaksanakan secara tertutup dan terbatas pada Ahad (6/7) di Gedung Al Mubarok, auditorium utama Ma’had Aly Amtsilati, yang dihadiri oleh para dosen dan juga mahasantri Ma’had Aly Amtsilati. Acara dimulai dengan pembukaan, Mars Ma’had Aly Amtsilati, dan dilanjutkan dengan sambutan Mudir Ma’had Aly Amtsilati, Arinal Haq Zakiyyat, M.Pd.

Beliau memulai sambutan dengan membacakan syi’ir karya Albar Waritsul Fuqoha sebagai bentuk penyambutan atas kehadiran Pak Ginanjar yang datang setelah melakukan runtutan acara yang sangat padat. Beliau juga mengungkapkan harapan, “Semoga dengan hadirnya pemateri pada malam hari ini membawa keberkahan dan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda.” Beliau juga bercanda kecil dengan berkata, “Pokoknya setiap Pak Ginanjar ke sini harus seminar, karena alhamdulillah ini adalah seminar Pak Ginanjar yang kedua kalinya di Ma’had Aly Amtsilati.”

Setelah sambutan dari Pak Mudir, acara beranjak pada sesi seminar yang dimoderatori oleh Pak Yusuf Al-Faruq. Pada awal seminar, Pak Yusuf menceritakan bahwa pada malam hari ia ditelepon oleh Pak Mudir untuk diamanati menentukan tema seminar yang akan dibawakan Pak Ginanjar. Akhirnya, ia memilih tema “Masa Depan Kajian Manuskrip Pesantren: Indonesia Membangun Ekosistem Tahqiq, Digitalisasi, dan Publikasi Internasional.” “Kenapa tema ini sangat menarik? Karena masih banyak khazanah ilmiah manuskrip pesantren yang masih terpendam,” tuturnya.

Setelah prolog singkat dari moderator, tibalah sesi seminar Pak Ginanjar. Di awal seminar beliau menuturkan, “Amtsilati adalah pesantren yang Allah titipkan berkah di dalamnya karena melahirkan ulama-ulama yang cerdas dan alim. Andai saya diberikan waktu muda, maka saya akan mondok lagi untuk mondok di Amtsilati.” Beliau bertutur seperti ini karena kebanyakan teman-temannya yang mondok di Amtsilati menjadi orang yang alim. Sontak para mahasantri Ma’had Aly Amtsilati bertepuk tangan serentak atas tutur kata tersebut.

Kemudian Pak Ginanjar masuk ke pembahasan inti tentang manuskrip.

Menurut Pak Ginanjar, yang dibutuhkan dalam pelestarian manuskrip kuno ulama Nusantara adalah fahros (katalog kitab) dan publikasi digital. Pandangan tersebut selaras dengan pernyataan Prof. Dr. Martin van Bruinessen bahwa “Ada dua tradisi yang menjadi tradisi agung dalam Islam di Indonesia, pertama pesantren dan yang kedua adalah kitab kuning.” Prof. Martin bahkan dijuluki Syafa’atul ‘Uzhma karena dedikasinya dalam mendalami kitab kuning pesantren dan tradisi tarekat di Indonesia.

Pak Ginanjar menuturkan setiap kita menemukan manuskrip dan kitab kuning ulama terdahulu, kita akan dihadapkan pada dua pilihan : mengkaji dan  mempublikasikannya atau membiarkannya terbengkalai. Maka, ketika kita tidak mengkaji dan mempublikasikannya, manuskrip tersebut akan dikaji dan diubah oleh orang orientalis.

Ia menceritakan bahwa pada tahun 2011 bertemu dengan Prof. Kawashima Midori dari Jepang yang datang ke Indonesia untuk mengumpulkan manuskrip-manuskrip pesantren yang kuno dan dikumpulkan di Perpustakaan Unisoviet. Mereka tidak membaca manuskrip tersebut, tetapi mengatalogkan manuskrip-manuskrip itu.

Pertanyaannya, kenapa mereka melakukan hal itu? Jawabannya agak remeh, tetapi tidak juga remeh. Mereka berkata, “20 tahun ke depan jika orang Indonesia tak mengkaji dan merawat manuskrip tersebut kemungkinan besar sudah tidak ada lagi di indonesia, dan jika mereka membutuhkan manuskrip tersebut mereka harus pergi ke negara kami untuk mengkaji manuskrip tersebut.”

Pak Ginanjar menemukan banyak orang yang memiliki jurnal, tetapi tidak dipublikasikan secara global serta tidak mengolaborasikan dengan warisan keilmuan Timur Tengah. Selain itu, ada salah satu ulama yang sangat menarik, yaitu Gus Awis, karena manuskripnya banyak yang dipublikasikan di Kairo, Mesir, tetapi tidak dipublikasikan secara global. 

Maka tugas kita ialah mengkaji, mentahqiq, dan juga mempublikasi manuskrip ulama Nusantara, bahkan membuat jurnal yang dipublikasikan secara global. Karena jika tidak, para mahasantri akan kalah dengan akademisi-akademisi yang berlatar belakang bukan dari pesantren ketika membuat jurnal atau mengkaji manuskrip ulama Nusantara, sehingga tidak dengan khas pesantren.

Ia juga memberikan saran untuk menjadi seorang muhaqqiq, yaitu mampu menguasai khazanah keilmuan Timur Tengah dan juga dapat mengolaborasikan dengan keilmuan Nusantara. Beliau juga menuturkan lima hal yang dibutuhkan oleh seorang muhaqqiq, yaitu Yahtaju ila ilmi Sulaiman, Yahtaju ila umri Nuh, Yahtaju ila sabri Ayyub, Yahtaju ila mali Qarun, dan Yahtaju ila hubbi Khadijah.

Sebelum sesi seminar ditutup, ada beberapa pertanyaan dari para mahasantri dan dosen tentang pembahasan di seminar ini.

Salah satu mahasantri bertanya, “Apakah metode mentahqiq bisa dikolaborasikan dengan AI?” Jawabannya, “Tidak bisa kita gunakan untuk dikolaborasikan dalam metode tahqiq, tetapi bisa kita jadikan alat bantu, seperti digunakan untuk menulis ulang lafaz Arab yang ada di foto sebuah manuskrip.”

Pertanyaan terakhir berasal dari salah satu dosen. Ia bertanya, “Apa kitab yang bisa dijadikan pegangan dalam metode tahqiq?” Pak Ginanjar menjawab bahwa kitab yang biasa beliau gunakan dan mudah digunakan untuk para pentahqiq dalam metode mentahqiq adalah karya KH Asep Abdul Qadir Jailani, karena beliau memang ahli sekali dalam bidang turats tahqiq.

Seminar diakhiri dengan doa yang dipimpin KH Faizin dan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, Ma’had Aly Amtsilati berharap lahir generasi muda pesantren yang mampu menjaga, mengkaji, dan memperkenalkan manuskrip ulama Nusantara kepada dunia internasional.

Penulis : Muhammad Faza Fauzan Azhima

Editor : Mohammad Hizbullah

Share the Post: