


JEPARA — Di era ketika informasi melimpah dalam genggaman, paradoks justru terjadi di dunia manuskrip: aksesnya semakin mudah, tetapi penelitinya kian langka. Menjawab tantangan tersebut, Ma’had Aly Amtsilati Jepara mengambil langkah nyata lewat Seminar Virtual Internasional bersama Dr. Thariq Thathmy, pakar tahqiq Institut Darul Hadits al-Hasaniyah Maroko, bertema “Tajarub Tathbiqiyyah fi Tahqiq al-Makhthuthat: Min al-Makhthuth ila al-Mathbu’” pada Jum’at (15/5). Seminar ini bukan sekadar forum akademik biasa, melainkan momentum membangkitkan gairah mahasantri untuk menghidupkan tradisi tahqiq (penyuntingan kritis) manuskrip kuno secara ilmiah.
Sejak sesi pembuka, Dr. Thariq langsung menegaskan bahwa seorang muhaqqiq (peneliti manuskrip) tidak hanya dituntut menguasai kemampuan teknis, melainkan juga integritas dan kejujuran ilmiah yang tak bisa ditawar.
“Tugas utama seorang muhaqqiq adalah menghadirkan kembali naskah sedekat mungkin sebagaimana yang dikehendaki oleh penulis aslinya, tanpa menambah atau mengurangi satu kata pun,” tegas Dr. Thariq.
Selain sifat amanah, beliau menyebutkan tiga pilar penting lainnya yang harus dimiliki peneliti manuskrip: Pertama, kepedulian dan totalitas perhatian terhadap warisan keilmuan klasik (al-tahammum bi al-turats). Kedua, kesabaran tingkat tinggi, mengingat proses tahqiq yang begitu kompleks bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun. Pergulatan dengan manuskrip klasik yang berpotensi memiliki perbedaan varian redaksi di beberapa salinan naskah, serta kemungkinan terjadinya distorsi dan penyimpangan menuntut ketelitian dan kesabaran yang melelahkan mata (al-shabr yut’ibu al-‘ain). Ketiga, wawasan luas tentang khazanah keilmuan Islam guna memverifikasi teks secara akurat. Keluasan wawasan akan memudahkan muhaqqiq dalam menjalani pekerjaan berat ini.
“Seorang muhaqqiq harus rela ‘hidup bersama’ turats,” ujarnya, sebuah ungkapan retoris yang langsung disambut senyum dan anggukan takzim dari para peserta.
Tidak Semua Naskah Layak Diterbitkan
Salah satu poin yang paling membuka mata peserta adalah soal proporsionalitas dalam memilih manuskrip. Dr. Thariq mengingatkan adanya dua kutub ekstrem yang kerap menjebak peneliti muda: mereka yang menganggap semua naskah kuno bernilai sama sehingga harus diterbitkan tanpa seleksi (ifrath), serta mereka yang memandang manuskrip semata dari kegunaan praktisnya hari ini (tafrith), tak perlu diterbitkan jika tidak lagi relevan dengan zaman.
“Yang harus didahulukan adalah naskah yang paling penting (al-aham), bukan sekadar yang penting (al-muhim)”, jelasnya. Ia bahkan mewanti-wanti agar para akademisi menjauhi naskah bermuatan negatif, seperti kitab sihir atau akidah menyimpang, kecuali jika disertai dengan pendekatan kritik ilmiah yang edukatif.
Kelayakan sebuah naskah untuk ditahqiq pun tidak serta-merta melekat pada setiap tulisan lama. Naskah yang diprioritaskan adalah kitab-kitab induk (ummahat) dari abad-abad awal Islam yang memiliki orisinalitas (ashalah) dan nilai inovasi tinggi. Adapun pentahqiqan atau penerbitan ulang sebuah karya hanya dibenarkan bila cetakan sebelumnya dinilai buruk (saqim), penuh distorsi (tahrif), atau karena ditemukannya salinan tangan (ushul khaththiyyah) yang jauh lebih tua dan kredibel.
Berburu Naskah di Era Digital
Sesi yang paling ditunggu-tunggu adalah ketika Dr. Thariq Thathmy membedah strategi berburu naskah di era digital. Ia memaparkan beragam sumber rujukan global yang kini berada dalam jangkauan para peneliti, mulai dari katalog fisik perpustakaan Maroko, hingga pusat riset dunia seperti King Faisal Center for Research and Islamic Studies (KFCRIS), Riyadh dan Juma Al Majid Center (Dubai). Bibliografi legendaris Brockelmann dan Fuat Sezgin juga tak kalah penting, hingga katalog elektronik yan tersedia dalm berbagai platform digital seperti Jami’ al-Makhtuthat al-Islamiyyah dan Khizanat al-Turats.
Namun, di balik segala kemudahan teknologi tersebut, beliau memberikan catatan keras terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia filologi. “Manfaatkan AI untuk mengolah lautan informasi, tetapi jangan pernah jadikan ia sebagai sandaran utama tanpa validasi,” pungkasnya secara lugas.
Waspadai Manuskrip Palsu (Manhulah)
Aspek krusial lain yang tak boleh luput dari perhatian filolog adalah bahaya manuskrip manhulah, yakni naskah palsu atau apokrifa yang mencatut nama ulama-ulama besar, padahal bukan ditulis oleh tokoh yang diklaim tersebut.
Untuk mengantisipasi pemalsuan sejarah ini, Dr. Thariq menegaskan bahwa peneliti wajib melakukan rujukan silang (cross-reference) ke katalog-katalog bibliografi klasik yang telah teruji kredibilitasnya sepanjang zaman. Beberapa di antaranya adalah kitab Al-Fihrist karya Ibn Al-Nadim (w. 385 H) yang memetakan karya-karya dari empat abad pertama Hijriah, serta Kasyf al-Zhunun karya Haji Khalifah yang mendokumentasikan lebih dari 15.000 judul buku dari sekitar 300 bidang ilmu.
Di penghujung sesi, Dr. Thariq menutup pemaparannya dengan pesan yang sangat mendalam bagi para mahasantri. Beliau mengingatkan bahwa ilmu tidak dapat diraih secara instan, melainkan harus dilalui secara bertahap (tadarruj). Konsistensi dalam kebertahapan itulah yang menjadi kunci sejati keberhasilan seorang penuntut ilmu.
Untuk menggambarkan hal tersebut, beliau mengutip bait syair indah dari Ibn al-Nahhas al-Nahwi (w. 689 H):
الْيَوْمُ شَيْءٌ وَغَدًا مِثْلُهُ … مِنْ نُخَبِ الْعِلْمِ الَّتِيْ تَلْتَقِطْ
يُحَصِّلُ الْمَرْءُ بِهَا حِكْمَةً … وَإِنَّمَا السَّيْلُ اِجْتِمَاعُ النُّقَطْ
“Hari ini sedikit, besok sedikit lagi. Begitulah cuplikan ilmu dikumpulkan.
Seseorang akan meraih hikmah dengannya, karena sesungguhnya air bah pun tercipta dari kumpulan tetes hujan.”
Beliau juga merefleksikan sebuah ironi zaman modern. Saat ini, akses terhadap manuskrip dan literatur keislaman begitu luas dan berada dalam genggaman, namun gairah untuk membuka dan mengkajinya justru kian meredup. “Al-kutub maujudah wa lakin matat al-himam,” tutur Dr. Thariq dengan nada masygul. “Buku-buku melimpah ada di sana-sini, tetapi gairah untuk mempelajarinya telah mati”.
Inilah fenomena yang beliau sebut sebagai “al-qurbu hijab”—sebuah kedekatan dan kemudahan akses yang secara paradoks justru menjelma menjadi tabir penghalang bagi manusia untuk meneguk dalamnya samudra ilmu.
Serial seminar virtual internasional yang diinisiasi oleh Ma’had Aly Amtsilati Jepara dan direncanakan berlangsung dalam 8 pertemuan ini ini kiranya menjadi pengingat berharga bagi dunia akademik kontemporer. Warisan intelektual Islam bukanlah sekadar koleksi benda mati eksotis yang tersimpan berdebu di rak perpustakaan. Ia adalah entitas hidup yang terus menunggu untuk digali, dikaji, dan dihadirkan kembali ke tengah peradaban. Tentu saja, oleh tangan-tangan yang amanah, sabar, dan mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Oleh : M. Yusuf Al Faruq (Dosen Ma’had Aly Amtsilati)
