
Tidak semua langkah lahir dari jalan yang lapang. Sebagian harus meretas sunyi, menembus ruang-ruang penuh ragu, lalu bertahan di tengah keterbatasan yang seakan tak bertepi. Dari sanalah tumbuh keyakinan bahwa setiap ikhtiar akan menemukan jalannya sendiri—selama doa tak pernah putus dan harapan tetap dirawat.
Begitulah kisah Tsaniya Ladunna Ilma R.M., S.Ag., M.Pd., yang akrab disapa Neha. Perempuan asal Probolinggo, Jawa Timur, ini tumbuh dalam keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai warisan berharga. Latar belakang kedua orang tuanya yang juga menempuh pendidikan menumbuhkan harapan agar Neha dapat melangkah lebih jauh dan melampaui batas yang pernah ada.
Sebagai santri yang menetap di pesantren, perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada aturan yang harus dihormati, ruang gerak yang terbatas, serta informasi yang terkadang tidak datang secepat yang diharapkan. Namun, justru dari keterbatasan itulah keteguhan belajar tumbuh. Ia belajar bahwa tidak semua jalan harus terbuka lebar untuk membuat seseorang terus bergerak; terkadang, keyakinanlah yang terlebih dahulu membuka pintu. Harapan kemudian diarahkan pada Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), program hasil kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP. Pada 2026, BIB menerima 12.696 pendaftar; sekitar 9.000 peserta lolos administrasi, dan 4.153 di antaranya melaju ke tahap wawancara. Angka-angka itu menunjukkan bahwa kesempatan tersebut tidak datang dengan mudah. Di balik satu nama yang akhirnya melangkah, ada ribuan nama lain yang lebih dahulu berhenti di perjalanan.
Seleksi administrasi menjadi gerbang pertama yang harus dilewati. Setiap dokumen dipersiapkan dengan teliti, termasuk surat rekomendasi dari para guru besar yang belum dikenalnya secara dekat. Keraguan sempat datang. Bahkan, sebelum menemui salah seorang dosen, ia lebih dahulu menelusuri rekam jejak akademiknya melalui Google Scholar agar dapat memahami bidang keilmuannya dan mempersiapkan diri. Nasihat gurunya di pondok, Abah KH. Taufiqul Hakim, kemudian kembali terngiang: “Kalau seseorang telah berikhtiar semampunya, maka selebihnya adalah tawakal.” Kalimat itu menjadi pegangan ketika ia menghadapi asesmen kompetensi akademik dan psikologi. Setelah melewati tahap tersebut, kabar baik datang: ia dinyatakan lolos dan berhak mengikuti wawancara.
Tahap wawancara yang berlangsung pada 9–22 Juli 2026 menjadi babak yang paling menguji. Sebelumnya, ia harus menyiapkan proposal disertasi, esai motivasi, serta dokumen akademik lainnya. Gagasan penelitiannya berjudul Learning Bandongan AI: Transformasi Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Turats di Era Digital. Melalui penelitian itu, ia ingin mengembangkan kecerdasan buatan yang dapat mendukung pembelajaran kitab kuning, khususnya dalam mengenali kaidah nahwu dan sharaf. Wawancara berlangsung daring dengan pengawasan ketat menggunakan dua kamera, satu mengarah ke peserta dan satu lagi memantau seluruh ruangan. Dua penguji bergantian mengajukan pertanyaan, bukan hanya tentang kemampuan akademik, tetapi juga tentang cara berpikir dan keteguhan mempertahankan gagasan.
“Kalau pondok sudah terintegrasi dengan AI, bukankah nanti orang tidak membutuhkan kiai lagi? Jangan-jangan kamu justru menghancurkan citra pesantren?”
Pertanyaan itu menuntut jawaban dalam hitungan detik. Ia menjelaskan bahwa teknologi yang ingin dibangun bukan untuk menggantikan guru, melainkan menjadi sarana pendukung pembelajaran. Sebab, secanggih apa pun teknologi, ia tidak akan menggantikan hikmah, adab, dan keberkahan ilmu yang lahir dari bimbingan seorang guru.
Belum selesai sampai di sana, sebuah pertanyaan lain datang: “Kamu ini dari pesantren, kan? Coba bacakan lima bait Alfiyah yang kamu hafal.”
Ruangan seolah berhenti sesaat. Ia menarik napas, lalu bait demi bait mengalir dari lisannya. Lima bait itu bukan sekadar hafalan, melainkan jejak perjalanan panjangnya selama bertahun-tahun di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati. Di sana ia menempuh pendidikan dari MTs, MA, hingga Ma’had Aly Amtsilati pada jenjang Marhalah Ula dan Marhalah Tsaniyah. Pada masa yang sama, ia juga menempuh pendidikan di UNISNU Jepara. Selama kurang lebih dua belas tahun, kitab, nahwu, sharaf, dan bimbingan guru menjadi bagian dari hidupnya. Momen itu menjadi jawaban yang lebih dalam daripada sekadar ujian hafalan. Tradisi pesantren yang membentuknya ternyata tidak menghalangi langkah menuju teknologi; justru menjadi fondasi bagi gagasan yang ingin ia bawa ke masa depan.
Sebab, perjalanan ini tidak pernah semata-mata tentang gelar doktor atau keberhasilan meraih beasiswa. Ada alasan yang jauh lebih besar yang membuatnya terus melangkah hingga hari ini. “Saya ingin membuktikan bahwa menjadi santri bukan berarti memiliki batas untuk bermimpi. Justru dari pesantren, saya belajar untuk berani bermimpi besar, berikhtiar, dan membawa ilmu yang saya miliki agar bisa bermanfaat lebih luas,” ungkapnya.
Di tengah pandangan masyarakat yang kerap menganggap santri hanya berkutat dengan kitab kuning dan ilmu agama, ia memilih untuk menjawab anggapan itu melalui karya. Baginya, pesantren tidak pernah membatasi langkah seseorang. Justru dari pesantren, ia belajar bahwa ilmu agama dapat berjalan beriringan dengan ilmu pengetahuan, bahwa adab harus mengiringi kecerdasan, dan bahwa tawakal menyempurnakan setiap ikhtiar.
Karena itu, langkahnya bukan hanya tentang pencapaian pribadi. Ia ingin membuktikan bahwa santri mampu hadir dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan akar nilai yang membentuknya. Sebab, menjadi santri bukanlah batas dari sebuah mimpi, melainkan awal dari perjalanan untuk menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi umat dan negeri.
Oleh: Lailatul Jannah
Editor: Mazaya Aufa
