Dari Ma’had Aly Amtsilati Menuju Beasiswa Indonesia Bangkit

“Awalnya saya tidak pernah membayangkan akan melanjutkan studi di Ma’had Aly Amtsilati. Saya hanya mengikuti arahan dari guru,” kenang Abdul Salam.
Keputusan yang pada awalnya diambil karena mengikuti arahan tersebut justru menjadi titik awal perjalanan akademiknya. Melalui proses belajar, pengabdian, dan berbagai pengalaman yang dijalani selama di Ma’had Aly Amtsilati, Abdul Salam akhirnya berhasil meraih Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dan melanjutkan studi Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Abdul Salam, yang akrab disapa Salam, berasal dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sejak menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi, ia aktif mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional. Baginya, setiap perlombaan merupakan kesempatan untuk mengasah kemampuan sekaligus memperluas pengalaman.
Ia menyelesaikan pendidikan S1 di Ma’had Aly Amtsilati dan juga menuntaskan pendidikan nonformal Program Illiyin Pasca Amtsilati di Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati. Setelah lulus, ia dipercaya menjadi staf Media dan Ifhama Ma’had Aly Amtsilati.

Berawal dari Sebuah Percakapan
Keinginan untuk melanjutkan studi magister bermula dari sebuah diskusi santai bersama Albar, salah seorang dosen Ma’had Aly Amtsilati. Dalam perbincangan tersebut, mereka membahas berbagai peluang beasiswa untuk jenjang S2, termasuk Beasiswa Indonesia Bangkit.
“Dari situ saya mulai tertarik. Saya berpikir, kenapa tidak mencoba?” ujar Salam.
Keputusan untuk mendaftar menjadi langkah awal yang membawanya memasuki proses seleksi yang cukup kompetitif.

Tiga Tahap Seleksi
Seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit terdiri atas tiga tahapan, yaitu seleksi administrasi, tes skolastik, dan wawancara substansi.
Pada tahap administrasi, peserta diwajibkan melengkapi berbagai dokumen, seperti identitas diri, surat keterangan sehat, sertifikat kemampuan bahasa asing, surat pernyataan, serta surat rekomendasi tokoh masyarakat.
Salam memperoleh surat rekomendasi dari Arinal selaku Mudir Ma’had Aly Amtsilati dan Nur Salikin selaku Ketua Umum Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI). Selain itu, ia juga melampirkan berbagai sertifikat prestasi yang pernah diraih. Meskipun bersifat opsional, menurutnya dokumen tersebut menjadi salah satu nilai tambah dalam proses seleksi.
Setelah dinyatakan lolos administrasi, Salam mengikuti tes skolastik berbasis Computer Based Test (CBT) secara daring. Materi yang diujikan meliputi penalaran verbal, penalaran numerik, wawasan umum, serta psikotes.
“Bagian psikotes cukup menantang karena peserta diminta mengambil keputusan berdasarkan berbagai studi kasus yang belum tentu pernah dialami sebelumnya,” jelasnya.
Keberhasilannya melewati tahap kedua mengantarkannya ke sesi wawancara substansi, tahap akhir yang menentukan.

Wawancara yang Berkesan
Wawancara berlangsung selama kurang lebih 45 menit. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari wawasan kebangsaan, rencana penelitian, pengalaman organisasi, hingga motivasi melanjutkan studi.
Salah satu pertanyaan yang paling diingat Salam ialah ketika penguji bertanya, “Jika tidak diterima Beasiswa Indonesia Bangkit, apakah Anda tetap akan melanjutkan kuliah?”
Tanpa ragu, ia menjawab bahwa dirinya tetap akan melanjutkan pendidikan melalui jalur lain, baik dengan beasiswa maupun pembiayaan mandiri.
Menjelang akhir sesi, penguji kembali memberikan pertanyaan yang cukup menantang.
“Kami masih memiliki waktu lima menit. Mengapa kami harus memilih Anda sebagai penerima Beasiswa Indonesia Bangkit?”
Menurut Salam, pertanyaan tersebut menjadi salah satu momen yang paling menguji kemampuannya dalam menyampaikan visi, motivasi, dan komitmen untuk melanjutkan studi.

Persiapan dan Hasil
Menjelang pelaksanaan tes, Salam memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara intensif, terutama dengan berlatih menulis esai serta mengasah kemampuan numerik.
Usahanya membuahkan hasil. Setelah melalui seluruh tahapan seleksi, ia dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Indonesia Bangkit dan memilih melanjutkan studi Magister Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Baginya, program studi tersebut memiliki visi akademik yang sejalan dengan minat serta cita-citanya dalam pengembangan pendidikan bahasa Arab.

Berani Mencoba, Siap Berproses
Di balik proses seleksi yang serius, Salam juga mengingat beberapa momen yang mengundang senyum. Salah satunya ketika penguji berpesan, “Nanti kalau jadi mahasiswa jangan asal-asalan demo, ya.” Penguji juga sempat melontarkan pertanyaan ringan, “Lebih sakit kalah lomba atau lebih sakit putus cinta?”. FYI : interviewernya 2 ibu dosen.
Meski disampaikan dengan santai, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang tidak terlupakan.
Bagi Salam, pelajaran terbesar dari proses seleksi bukan semata-mata keberhasilan memperoleh beasiswa, melainkan keberanian untuk mengambil kesempatan dan kesungguhan dalam menjalaninya.
“Kalau kita tidak pernah mencoba mendaftar beasiswa, tentu kita tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk diterima. Kalaupun hasilnya belum sesuai harapan, setidaknya kita memperoleh pengalaman yang bisa menjadi bekal untuk mencoba kembali,” ujarnya.
Perjalanan Abdul Salam menunjukkan bahwa setiap kesempatan berawal dari keberanian mengambil langkah pertama. Dengan kemauan untuk terus belajar, mempersiapkan diri, dan tidak ragu mencoba, sebuah peluang dapat menjadi awal dari perjalanan yang membawa seseorang menuju impian yang lebih besar.

Oleh : Muhammad Faza Fauzan Azhima
Editor : Mohammad Hizbullah

Share the Post: